Kepala Desa Tigawasa

BANTU ANAK BERPRESTASI DENGAN PROGRAM BAPAK ANGKAT

Mendengar kata tigawasa perhatian kita akan tertuju pada kekerasan, peperangan, kuno, seram, sokasi, bedeg dan lain sebagainya. Betapa tidak, Desa yang terletak di kecamatan Banjar ini ternyata memiliki sejarah yang cukup jelas, tetapi ada beberapa versi yang mengatakan tentang keberadaan salah satu desa Bali Aga ini. Selain berbicara sejarah ternyata desa ini akan mengadakan program Bapak Asuh bagi anak berprestasi. Bagaimana kelanjutannya?

Kadek Murtika selaku kepala desa Tigawasa yang ditemui oleh TPI di sela-sela kesibukan kantornya mengatakan bahwa Desa Tigawasa memiliki visi yang unik yaitu mewujudkan Desa Tigawasa  yang ASRI (aman, sehat, rapi, dan indah). Visi tersebut didukung oleh misi yaitu menjaga keamanan desa, menata lingkungan denagn rapi dan indah, serta menjaga kesehatan, mulai dari lingkungan sekolah. Murtika juga menambahkan bahwa Desa yang memiliki luas wilayah 1690 hektar ini memiliki jumlah penduduk sebanyak 5450 jiwa dan terbagi menjadi 1369 KK. Secara geografis desa yang terkenal dengan anyaman bambunya ini memiliki batas-batas wilayah yaitu, Sebelah utara: Desa Temukus dan Kaliasem, Sebelah Selatan: Desa Pedawa, Sebelah Barat: Desa Cempaga, dan Sebelah Timur: Desa Kayu Putih Melaka. Selain itu desa Tigawasa juga terbagi menjadi 9 Banjar dinas yaitu, Banjar Dinas Dauh Pura, Banjar Dinas Sanda, Banjar Dians Pangussari, Banjar Dinas Wanasari, Banjar Congkang, Dinas Dinas Gunung Anyar, Banjar Dinas Dangin pura, Banjar Dinas Umasedi, Banjar Dinas Konci.

Ditanya masalah tradisi ternyata desa yang bermatapencaharian petani dan pengerajin ini percaya dengan adanya upacara ngulapin, tetapi upacara ini dilakukan di kamar suci dan bisa juga di tempat tidur. Istilah ngulapin ini dikenal dengan istilah Ngidih Yeh Base. Upacara ini diemong oleh Balian desa yang sudah terkenal mumpuni di bidangnya. Tradisi yang lainnya adalah saat penguburan mayat. “Masyarakat desa Tigawasa mengenal suatu kepercayaan dimana, orang yang meninggal pada hari itu juga langsung dikubur, selain itu juga masyarakat desa juga memiliki suatu kepercayaan dimana, mayat harus dinyanyikan dengan teriakan-teriakan yang menyayat hati, yang diistilahkan dengan istilah Ngelenjatang, hal ini dimaksudkan untuk memisahkan badan halus dan kasar” ungkap Murtika mantap. Mayat yang dikubur tidak memakai peti tetapi langsung dibungkus dengan tikar dan hanya dibekali nasi bawang ajembung, dan langsung di bawa ke penguburan setempat.

Ditanya masalah sejarah, maka Ketut Sudaya salah satu  sesepuh Desa Tigawasa akan menjawab semuanya. Menurut Sudaya Kata Tigawasa berasal dari dua versi, yaitu yang pertama berarti, Tiga Kuasa atau Tiga Tempat (tempat yang dimaksud adalah: Munduk Taulan, Pememan dan Kayehan Sanghyang). Sedangkan arti kata yang kedua adalah, Tiga Was atau tiga kali pergi (maksudnya adalah tiga kali pergi untuk membuat desa, tempat yang pertama adalah di Sanda, kedua Pangus dan yang terakhir tempat dimana saat ini merupakan pusat desa. Tetapi menurut Murtika sejarah desa tigawasa bisa dilihat dari dua versi juga yaitu, pertama adalah dari fakta yang ada dimana Tigawasa berasal dari kata Tiga Dados yang artinya pada saat itu di wilayah Tigawasa ada tiga sekte yaitu munduk taulan, pememman, dan kayean Sanghyang. Dari ketiga sekte tersebut bergabung menjadi satu sehingga pada akhirnya disebut Tigawasa. Dan versi yang kedua adalah cerita turun temurun yang menyebutkan bahwa dulunya desa ini tiga kali terbentuk yaitu Pamunggah, Banjar Wani, Dauh Pura.

Sudaya juga menambahkan terdapat benda-benda peninggalan manusia jaman purba di tiga utama di Tigawasa, yaitu di Banjar Sanda (Wani) Banjar Pangus dan Gunung Sari.  Menurut perkiraan penduduk Desa Tigawasa, sejak jaman (Mulethicum) sudah ada manusia diam di sana terbukti adanya terdapat beberapa kapak batu halus di beberapa tempat di sana. Ada yang berwarna hitam kelabu dan putih. Masyarakat Desa Tigawasa menamainya gigin kilap, dianggap batu yang bertuah. Kalau ada padi yang kena hama penyakit lalu gigin kilap ini di rendam dengan air, kemudian air basuhannya itu dibawah ke gaga atau ke sawah di percikkannya pada tanaman. Berkat kepercayaan maka penyakit padi bias hilang, karena itu batu itu disakralkan. Mungkin sebelum itu sudah pernah ada manusia di sana yaitu pada jaman batu muda (Misilithicum) karena ada pada suatu tempat lubang besar ( kini sudah tertimbun) dikatakan itu adalah lubang raksasa, sampai sekarang disekitar tempat itu disebut Songsasa (Song Raksasa) lubang raksasa.

            Beralih pada dunia pendidikan ternyata pemimpin dijajaran desa sangat merespon positif pendidikan,  Karena  menurut Murtika pendidikan adalah faktor pendukung kesejahteraan. Hal ini terlihat dengan didirikannya sekolah sebuah TK, tiga buah SD,  sebuah SMP, dan Kejar paket A, B,dan C. Kendatipun demikian  menurut Murtika ternyata respon masyarakat untuk mengenyam pendidikan hanyan  sebesar 50%. Murtika menambahkan beberapa kontribusi pemerintah desa di bidang pendidikan diantaranya adalah mendukung pendidikan melalui  mengupayakan kejar paket, mengupayakan bapak angkat untuk anak yang berprestasi, dan meringankan masyarakat di bidang pendidikan.  Selain di bidang pendidikan ternyata Desa yang memiliki bahasa khas ini ternyata sudah mampu mengepakkan prestasinya sampai ke tingkat nasional, walaupun tidak bisa meraih juara pertama. Pada kesempatan itu Desa Tigawasa mengadakan pameran di Jogjakarta. Selain mengikuti perlombaan tersebut ternyata desa yang satu ini rutin mengikuti pameran pada pawai pembangunan kabupaten Bulelelng.

            Ditanya masalah perayaan tahun baru, ternyata Murtika juga menyambut baik kreativitas yang sudah dilaksanakan oleh warganya terkait merayakan tahun baru kemarin. Pada perayaan tersebut diadakan pementasan seni dan ramah tamah di masing-masing banjar. Dan tentunya jajaran pemerintah desa juga turut diundang. Murtika juga sempat menyampaikan dukungan positifnya terhadap Tabloid Pendidikan Indonesia (TPI), karena menurut Murtika, dengan terbitnya tabloid yang berwawasan pendidikan  maka masyarakat tentu akan mengetahui berita-berita tentang pendidikan, apalagi berisi berita tentang keberadaan kontribusi desa dalam  dunia pendidikan.

            Diakhir perbincangan dengan TPI Murtika sangat berharap agar pemerintah daerah mampu mengupayakan pelatihan dan sosialisasi pendidikan kepada masyarakat, selain itu hal yang paling diutamakan oleh Murtka adalah upaya pemerintah dalam mengupayakan Bapak asuh dalam membina masyarakat terutama anak yang berprestasi. “Semoga program Bapak asuh ini bisa disetujui dan diupayakn oleh pemerintah daerah, oleh karena itu tingkatkan pendidikan, dan kebersamaan!” pungkas Murtika. (RVN)

About DESA TIGAWASA
KAMI ADALAH GENERASI ANAK MUDA BALI AGA YANG INGIN MEMAJUKAN DESA KAMI. KAMI SEBAGAI GENERASI MUDA DARI DESA BALI AGA BERKEINGINAN MELASTARIKAN BUDAYA KAMI, DAN MEMPRKENALKAN BUADAYA KAMI. AJEG BALI, AJEG BALI AGA.!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: